Media Cakrawala NTB.Com – Sebuah pemandangan yang menyayat hati sekaligus melegakan pecah di sekolah-sekolah pelosok Kabupaten Bima pagi ini. Penetapan tersangka terhadap Ico Rahmawati (IR), Ketua PGRI Kabupaten Bima, oleh Subdit Tipidkor Ditreskrimsus Polda NTB, menyisakan sebuah pergolakan batin yang luar biasa bagi ribuan guru.
Sebuah drama antara rasa iba yang tulus dan rasa syukur yang meledak.
Di balik ruang kelas yang berdinding papan di pegunungan Bima, percakapan para guru tak lagi soal kurikulum, melainkan soal takdir seorang "Ibu" yang kini harus berhadapan dengan jeruji besi.
Iba, Melihat Sosok Pemimpin yang Terjatuh Ada rasa iba yang tak bisa dibohongi. Secara manusiawi, para guru tetaplah pendidik yang memiliki hati lembut. Melihat sosok yang selama ini menjadi simbol organisasi profesi terbesar itu mengenakan rompi tahanan, memicu rasa sedih yang mendalam.
"Kami ini guru, kami diajarkan untuk mengasihi. Melihat beliau dalam kondisi seperti ini, hati kecil kami menangis. Bagaimana pun, beliau adalah rekan sejawat yang kami hormati kedudukannya," ujar seorang guru senior di Kecamatan Donggo dengan mata berkaca-kaca.
Rasa kasihan itu muncul membayangkan kehormatan yang luruh dalam sekejap. Namun, air mata kasihan itu segera tertutup oleh memori pahit yang bertahun-tahun mereka pendam dalam sunyi.
Rasa Syukur Berakhirnya Era "Penyiksaan" Mental
Di sisi lain, rasa syukur yang membuncah tak lagi bisa dibendung. Bagi para guru di daerah terpencil, mereka yang harus menembus hutan, menyeberangi sungai, dan mengajar dengan honor yang seringkali hanya cukup untuk makan beberapa hari—penetapan tersangka ini adalah jawaban dari doa-doa panjang di setiap sujud mereka.
Hampir di setiap sudut sekolah, terdengar helaan napas lega.
Mereka bersyukur karena:
Uang Susu Anak Terjaga, Uang yang diduga sering "dipotong" dengan berbagai dalih administrasi, kini tak lagi harus menguap ke kantong oknum.
Intimidasi Berakhir, Tak ada lagi ancaman mutasi atau hambatan kenaikan pangkat bagi mereka yang tidak ingin "menyetor".
Keadilan Tak Lagi Buta, Mereka bersyukur karena Polda NTB membuktikan bahwa suara lirih guru pelosok lebih berharga daripada jabatan seorang penguasa organisasi.
"Kami Menangis karena Sedih, Kami Sujud karena Lega"
Seorang guru honorer di wilayah pesisir Ambalawi menggambarkan dilema ini dengan sangat dramatis:
"Jika ditanya apakah kami kasihan? Iya, kami sangat kasihan melihat nasib beliau sekarang. Tapi jika ditanya apakah kami bahagia? Kami jauh lebih bahagia karena beban yang mencekik leher kami selama bertahun-tahun akhirnya dilepaskan oleh Polisi. Kami menangis karena sedih melihatnya, tapi kami sujud syukur karena akhirnya kami bisa bernapas tanpa rasa takut."
Fajar Baru di Tanah Bima,
Penetapan tersangka ini bukan sekadar proses hukum, melainkan sebuah pembersihan jiwa bagi dunia pendidikan di Bima.
Masyarakat kini melihat sebuah ironi yang nyata: seorang pemimpin yang seharusnya menjadi payung di tengah hujan, justru diduga menjadi badai bagi mereka yang berlindung.
Hari ini, guru-guru di Bima berdiri dengan kepala tegak. Mereka memaafkan secara pribadi sebagai manusia, namun mereka menuntut keadilan tetap tegak sebagai pengingat: bahwa keringat guru di daerah terpencil adalah suci, dan siapa pun yang mencoba memerasnya, akan berhadapan dengan hukum Tuhan dan manusia. (Red).

COMMENTS